Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus up date dalam hitungan perdetik , namun sisi tradisional masuh terus dilestarikan hingga sekarang ini. Berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih terus berlangsung hingga saat ini :
Matsuri (祭, Matsuri) adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.
Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.
Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.
Sejarah
Matsuri berasal dari kata matsuru (祀る, matsuru? menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.
Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.
Tiga matsuri terbesar
* Gion Matsuri (Yasaka-jinja, Kyoto, bulan Juli)
* Tenjinmatsuri (Osaka Temmangu, Osaka, 24-25 Juli)
* Kanda Matsuri (Kanda Myōjin, Tokyo, bulan Mei)
Matsuri yang terkenal sejak dulu
Daerah Tohoku
* Nebuta Matsuri (kota Aomori, bulan Agustus) dan Neputa Matsuri (kota Hirosaki, bulan Agustus)
* Kantō Matsuri (kota Akita, bulan Agustus)
* Sendai Tanabata Matsuri (kota Sendai, bulan Agustus)
Daerah Kanto
* Chichibuyo Matsuri (kota Chichibushi, Prefektur Saitama, 2-3 Desember)
* Sanja Matsuri (Asakusa-jinja, Tokyo, bulan Mei)
* Sannō Matsuri (Hie-jinja, Tokyo, bulan Juni)
Daerah Chubu
* Owarafū no bon (kota Toyama, Prefektur Toyama, bulan September)
* Shikinenzōei Onbashira Daisai (kota Suwa, Prefektur Nagano, diadakan setiap 6 tahun sekali, terakhir diadakan bulan April-Mei, 2004).
* Takayama Matsuri (kota Takayama, Prefektur Gifu, bulan April dan bulan Oktober)
* Furukawa Matsuri (kota Hida, Prefektur Gifu, bulan April)
Daerah Kinki
* Aoi Matsuri (Kyoto, bulan Mei)
* Jidai Matsuri (Heian-jingu, Kyoto, bulan Oktober)
* Tōdaiji Nigatsudō Shuni-e atau dikenal sebagai Omizutori (Nigetsu-dō, kuil Tōdaiji, Nara, 12 Maret)
* Kishiwada Danjiri Matsuri (Kishiwada, Prefektur Osaka, 14-15 September)
* Nada no Kenka Matsuri dan Banshū no Aki Matsuri (Prefektur Hyogo, diselenggarakan lebih dari seratus jinja di daerah Banshū dengan pusat keramaian di kota Himeji di bulan Oktober)
* Nachi no Hi Matsuri (Nachi Katsuura, Prefektur Wakayama, bulan Juli)
* Aizen Matsuri, Tenjinmatsuri dan Sumiyoshi Matsuri yang dikenal sebagai "Tiga Matsuri Musim Panas Terbesar di Osaka" (Prefektur Osaka, bulan Juni-Juli)
Daerah Chugoku dan Shikoku
* Saidaiji Eyō (Okayama, Prefektur Okayama, bulan Februari)
* Awa Odori (Tokushima, Prefektur Tokushima, 12-15 Agustus)
Daerah Kyushu
* Hakata Gion Yamakasa (Fukuoka, Prefektur Fukuoka, bulan Juli)
* Nagasaki Kunchi (Nagasaki, Prefektur Nagasaki, 7-9 Oktober)
* Karatsu Kunchi (Karatsu, Prefektur Saga, bulan November)
Pengertian lain
Dalam bahasa Jepang, kata "matsuri" juga berarti festival dan aksara kanji untuk matsuri (祭, matsuri?) dapat dibaca sebagai sai, sehingga dikenal istilah seperti Eiga-sai (festival film), Sangyō-sai (festival hasil panen), Ongaku-sai (festival musik) dan Daigaku-sai (festival yang diadakan oleh universitas).
Shimin Matsuri adalah sebutan untuk matsuri yang diselenggarakan pemerintah daerah atau kelompok warga kota dengan maksud untuk menghidupkan perekonomian daerah dan umumnya tidak berhubungan dengan institusi keagamaan.
Festival dan Matsuri yang lain
* Festival Salju Sapporo (Sapporo, Prefektur Hokkaido, bulan Februari)
* Festival Salju Iwate (Koiwai Farm, Shizukuishi, Prefektur Iwate, bulan Februari)
* YOSAKOI Sōran Matsuri (Sapporo, Hokkaido, bulan Juni)
* Niigata Odori Matsuri (Niigata, Prefektur Niigata, pertengahan bulan September)
* Odawara Hōjō Godai Matsuri (kota Odawara, Prefektur Kanagawa)
* Yosakoi Matsuri (kota Kochi, Prefektur Kochi, 9-12 Agustus)
* Hakata dontaku (3-4 April, kota Fukuoka)
* Hamamatsu Matsuri (3-5 Mei, kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka)
* Wasshoi Hyakuman Natsu Matsuri (kota Kita Kyūshū, Prefektur Fukuoka, hari Sabtu minggu pertama bulan Agustus)
Sabtu, 05 Mei 2012
Sistem Demokrasi dalam Kebudayaaan Masyarakat Batak Toba
Banyak kalangan meyakini bahwa sistem demokrasi berasal dari belahan dunia Barat (Eropa). Dimulai dengan kemunculan polis state di Athena, Yunani, sekitar abad ke 5 sebelum Masehi, hingga akhirnya meletus Revolusi Perancis tahun 1789 yang mengakhiri monarki absolut dan merintis kelahiran sistem demokrasi liberal di Eropa. Tidak jarang pula sistem demokrasi liberal-parlementerala Eropa Barat menjadi rujukan para aktivis pro demokrasi, juga para akademisi dan intelektual yang memang lahir dari ‘rahim’ dunia pendidikan Barat. Tidak mereka sadari bahwa sistem demokrasi yang berbasiskan pengorganisiran sosial dan pengambilan keputusan yang melibatkan orang banyak dalam suatu komunitas (masyarakat) sejatinya telah menjadi tradisi dalam kebudayaan banyak suku di Indonesia. Salah satu suku yang memiliki tradisi demokrasi dalam sistem sosialnya adalah Batak Toba.
Sistem Harajoan
Batak Toba merupakan salah satu sub suku dari suku Batak yang berdomisili di Provinsi Sumatra Utara. Masyarakat Batak Toba memiliki berbagai kebudayaan unik, diantaranya; terlihat dalam sistem sosial mereka yang disebut dengan harajoan. Harajoan dapat didefiniskan pola kepemimpinan dan sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba. Sistem Harajoan berlaku pada dua level organisasi sosial masyarakat Batak Toba, yaitu suku dan kampung atau Huta. Harajoan tidak hanya berkaitan dengan pengorganisiran para anggota suku maupun huta, tetapi juga mengatur mengenai luas teritori dan pola serta otorisasi kepemimpinan dalam suatu suku dan huta (Vergouwen, 1986).
Dalam sistem Harajoan, kepemimpinan dalam satu suku dinamakan Raja Maropat. Posisi Raja Maropat ini erat kaitannya dengan kelompok kekerabatan yang disebut marga. Hal ini terkait juga dengan mitologi suku Batak yang meyakini bahwa seluruh orang Batak dari berbagai sub suku adalah keturunan Si Raja Batak yang kemudian melahirkan banyak keturunan. Keturunan Si Raja Batak inilah yang mengorganisir diri dalam kelompok-kelompok tertentu guna memperjelas identitas genealogis mereka. Kelompok-kelompok itulah yang disebut marga. Penentuan pemimpin dalam kelompok suku itu berdasarkan pada silsilah marga atau tarombo dari masing-masing anggota suku. Bila berdasarkan tarombo tersebut ada seseorang yang silsilahnya mendekati garis keturunan terdekat dari Si Raja Batak, maka orang itu dapat diangkat sebagai pemimpin.
Ketika beberapa suku telah sepakat untuk tinggal bersama dalam suatu daerah, maka di daerah tersebut akan didirikan suatu kampung atau huta. Huta dapat didefinisikan sebagai persekutuan terkecil masyarakat Batak (Vergouwen, 1986). Huta dipimpin oleh seorang Raja Huta. Biasanya yang dipilih oleh penduduk huta untuk menjadi Raja Huta adalah pendiri huta yang bersangkutan.
Makin lama huta makin dipenuhi oleh penduduk dari berbagai suku di Batak Toba. Akhirnya beberapa penduduk pindah dan membentuk huta baru. Hasilnya, banyak terbentuk huta di daerah kebudayaan Batak Toba. Beberapa diantara huta tersebut kemudian membentuk federasi atau persekutuan guna mewujudkan tujuan bersama diantara mereka. Persekutuan tersebut dinamakanHorja. Horja dipimpin oleh seorang Raja Horja yang dipilih dari para raja huta yang bergabung dalam federasi horja. Namun pemilihan Raja Horja ini tidaklah melalui voting, melainkan musyawarah secara terbuka.
Musyawarah untuk mufakat pun menjadi bagian dari perencanaan pendirian huta baru. Di tingkat huta, ada mekanisme musyawarah yang membahas niat beberapa suku untuk mendirikan satu perkampungan atau huta baru. Mekanisme tersebut tonggo raja atau marria raja. Dalam tonggo raja, setiap raja suku ataupun penduduk berhak menyampaikan aspirasinya masing-masing. Musyawarah tersebut membahas persetujuan suku-suku lain terhadap pembangunan huta baru. Apabila hasil dari musyawarah itu tidak memberikan peluang bagi terbentuknya huta baru, maka pendirian huta harus dibatalkan atau ditunda. Pihak yang merasa keberatan dengan hasil musyawarah dapat menyampaikan aspirasinya ke tingkat horja untuk dibahas kembali. Tampak adanya mekanisme banding seperti yang terdapat pada pranata hukum modern.
Dalam huta maupun horja tidak ada pranata yang mengatur aspek religiusitas masyarakat Batak Toba. Aspek religiusitas baru dikelola dalam suatu lembaga yang secara struktural lebih tinggi dari horja. Lembaga itu adalah Bius. Bius merupakan perserikatan yang terdiri dari kelompok-kelompok marga yang ada di beberapa horja. Perserikatan bius ini dipimpin oleh raja bius yang terdiri dari terdapat empat orang (raja na opat), yaitu Raja Parmalim (religi), Raja Adat (hukum adat), Raja Parbaringin (sosial, politik dan keamanan), Raja Bondar (ekonomi). Raja Parmalim merupakan bagian dari Raja Bius yang memiliki otoritas dibidang agama, dalam hal ini agama Parmalim (agama asli Batak). Masing-masing dari Raja bius itu dipilih oleh wakil-wakil dari kelompok marga. Raja Parbaringin, misalnya, dipilih oleh penduduk dari tiap-tiap marga dalam bius melalui suatu musyawarah.
Terdapat hal menarik dari bius. Dalam lembaga tersebut ada pemimpin perempuan yang disebutPaniaran. Panjaran berfungsi sebagai “penyambung lidah” kaum perempuan dalam bius. Paniarandapat diistilahkan pula sebagai cerminan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat luas (khususnya kaum perempuan) di tingkat bius.
Refleksi Demokrasi Indonesia
Demokrasi harajoan ala Batak Toba merefleksikan betapa kayanya masyarakat nusantara akan nilai-nilai demokrasi yang muncul sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia Indonesia jauh sebelum datangnya pengaruh asing di negeri ini. Ilmuwan sosial dari Universitas Leiden, Belanda, Dr. Johann Angerler, berkesimpulan bahwa masyarakat Batak Toba telah mengenal demokrasi jauh sebelum datangnya kolonialisme Eropa. Justru kolonialisme Belanda lah yang telah menghancurkan pranata demokratis dalam masyarakat Batak Toba seiring dengan penyebaran Zending Kristen yang memarjinalkan agama Parmalim. Sebelum kedatangan pihak Belanda, upaya penghancuran budaya demokratis masyarakat Batak Toba juga dilakukan oleh kaum fundamentalis Paderi dari Minang yang terpengaruh mazhab asing yang berasal dari Arab Saudi, Wahabi. Pasca kemerdekaan, tepatnya di era Orde Baru, penghancuran sistem demokrasi Batak Toba berjalan secara lebih sistematis melalui penerapan UU Desa tahun 1974.
Sistem harajoan yang merupakan sistem kemasyarakatan Batak Toba adalah cerminan demokrasi Indonesia atau sosio demokrasi yang berbasiskan pada musyawarah untuk mufakat. Hal ini membuka mata kita bahwa bangsa ini memiliki kearifan lokal yang kongruen dengan spirit demokrasi yang melibatkan orang banyak dalam pengambilan keputusan pada suatu masyarakat. Namun liberalisasi politik pasca reformasi justru menjerumuskan bangsa ini pada demokrasi voting khas Barat yang berbasiskan kekuatan pemodal. Sekiranya kita sebagai bangsa menyadari bila suatu hal yang datang dari luar belum tentu baik bagi bangsa ini, bahkan mungkin akan membawa bencana. Jangan sampai kisah “Kuda Troya” terjadi berulang kali pada bangsa dan negara ini.
Kebudayaaan angklung
Indonesia memiliki banyak beraneka ragam kebudayaan yaitu kebudayaan etnik dan kebudayaan asing. Sebagai contoh dari adanya kebudayaan di Indonesia diantaranya seperti kebuayaan akan alat music daerah, contohnya angklung. Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Dan alat music ini dibuat dari bambu , jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pocani sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngagalena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
Angklung tediri dari berbagai macam jenis sesuai dengan asal usul angklung tersebut. Yaitu terdapat angklung Kanekes karena terdapat di wilayah Kanekes yang orang kenal dengan sebutan Badui. Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Lalu angklung Gubrag, yang terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung Bandeng, Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dan angklung Dogdod Lojor, terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitarGunung Halimun (berbatasan denga Jakarta,Bogor,Jakarta)
Jenis angklung diatas adalah sedikit dari berbagai macam jenis-jenis angklung di Indonesia. Contoh kebudayaan angklung itulah yang menjadi salah satu kebudayan asli Indonesia yang dari dulu hingga sekarang masih dilestarikan dan dikembangkan oleh banyak kalangan masyarakat. Dan tidak ada salahnya kita sebagai warga Indonesia turut bangga , karena negara kita mempunyai salah satu alat music tradisional dari Sunda seperti angklung tersebut. Untuk itulah mari kita turut belajar cara bermain angklung dan turut melestarikannya.
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohacisebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.[rujukan?]
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia keThailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran,Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler,Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre,Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.
Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.
Indonesia semarakkan "Festival Tarian Rakyat Internasional" di Turki
Kairo (ANTARA News) - Tim kesenian dari Sekolah Tari Trinero akan mewakili Indonesia untuk menyemarakkan Festival Tarian Rakyat Internasional (Atasehir International Folk Festival 2012) di Atesehar, Istambul, Turki pada 19-27 April 2012.
"Duta Besar RI untuk Turki, Ibu Nahari Agustini, menyambut baik kehadiran tim kesenian Indonesia dan akan menghadiri festival internasional tersebut," kata Kepala Bidang Penerangan, Sosial Budaya KBRI Ankara, Robertus Irawan, yang dihubungi ANTARA dari Kairo, Kamis petang.
Afrizal Akmal dari "International Organization Volkenvurst (IOV)", organisasi di bawah naungan UNESCO yang mengorganisir festival tersebut mengatakan, tim kesenian Sekolah Tari Trinero di Bintaro, Tangerang Selatan tersebut tergabung dari beberapa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
"Para murid Sekolah Tari Trinero yang akan ikut dalam misi kebudayaan ke Turki itu berasal dari SD Auliya, SD Al Azhar, SD Mentari, SMP Labschool Kebayoran, SMP Annisa dan SMPN 19 Jakarta," kata Afrizal.
Festival Tarian Rakyat di Istambul itu merupakan bagian dari peringatan Hari Anak Internasional, katanya.
Duta Seni Budaya Indonesia ini diketuai Ibu Dina Bayundani dan didampingi Ibu Ida Riyanti dari IOV-Indonesia, dan Ibu Heraresia, pimpinan Sekolah Tari Trinero.
Adapun tarian budaya Indonesia yang akan ditampilkan pada festival ini adalah Tari Panen (Padang), Lenggang Nyai (Betawi) dan Tari Saman (Aceh).
Rombongan dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan Etihad EY-471 pada 20 April, pukul 18.45 WIB dan direncanakan tiba di Bandara Attaturk, Istambul, pada 21 April pukul 06.45 wakatu setempat setelah transit di Abu Dhabi dan berganti penerbangan dengan Turkish Airlines. (M043/M014)
"Duta Besar RI untuk Turki, Ibu Nahari Agustini, menyambut baik kehadiran tim kesenian Indonesia dan akan menghadiri festival internasional tersebut," kata Kepala Bidang Penerangan, Sosial Budaya KBRI Ankara, Robertus Irawan, yang dihubungi ANTARA dari Kairo, Kamis petang.
Afrizal Akmal dari "International Organization Volkenvurst (IOV)", organisasi di bawah naungan UNESCO yang mengorganisir festival tersebut mengatakan, tim kesenian Sekolah Tari Trinero di Bintaro, Tangerang Selatan tersebut tergabung dari beberapa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
"Para murid Sekolah Tari Trinero yang akan ikut dalam misi kebudayaan ke Turki itu berasal dari SD Auliya, SD Al Azhar, SD Mentari, SMP Labschool Kebayoran, SMP Annisa dan SMPN 19 Jakarta," kata Afrizal.
Festival Tarian Rakyat di Istambul itu merupakan bagian dari peringatan Hari Anak Internasional, katanya.
Duta Seni Budaya Indonesia ini diketuai Ibu Dina Bayundani dan didampingi Ibu Ida Riyanti dari IOV-Indonesia, dan Ibu Heraresia, pimpinan Sekolah Tari Trinero.
Adapun tarian budaya Indonesia yang akan ditampilkan pada festival ini adalah Tari Panen (Padang), Lenggang Nyai (Betawi) dan Tari Saman (Aceh).
Rombongan dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan Etihad EY-471 pada 20 April, pukul 18.45 WIB dan direncanakan tiba di Bandara Attaturk, Istambul, pada 21 April pukul 06.45 wakatu setempat setelah transit di Abu Dhabi dan berganti penerbangan dengan Turkish Airlines. (M043/M014)
11 Warisan Budaya Indonesia Diakui Dunia
Organisasi PBB untuk ususan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, UNESCO, telah mengakui 850 situs di dunia menjadi warisan budaya, termasuk diantaranya 11 situs yang ada di Indonesia.
Ke-850 situs yang diakui menjadi warisan budaya dunia itu terdiri dari 689 mengenai budaya dan 176 alam, kata Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Jero Wacik dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Dirjen Nilai Seni Budaya Dan Film, Ukus Kuswara, pada Kongres Sekretariatan Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) di Solo, Rabu.
Sebanyak 11 situs budaya Indonesia yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia, antara lain mengenai Batik, Wayang, Keris, Angklung, dan situs manusia purba Sangiran.
Mengenai batik, dalam menjaga dan mengembangkannya kedepan tidak ada masalah, karena sekarang tidak hanya kaum tua, generasi muda pun sudah memakai kain batik, sementara keris hanya digunakan sebatas sebagai pelengkap pakaian adat.
"Untuk mempertahankan keris sebagai warisan budaya dunia, memang tidak mudah dan ini menjadi tantangan tersendiri, maka lewat kongres ini harus bisa dijabarkan untuk keris agar tidak saja menjadi pelengkap pakaian adat. Tapi juga bisa sebagai benda seni dan bisa menjadi nilai tambah dan tidak hanya generasi tua, tetapi juga muda yang menyenangi," katanya.
Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Staf Ahlinya Bidang Politik Maryanto mengatakan bahwa keris memang pada awalnya sebagai senjata untuk melindungi diri, tetapi sekarang sudah tidak terbatas pada fungsi tersebut saja.
Keris selain untuk senjata melindungi diri, dan simbol status sosial juga sebagai barang seni yang bernila tinggi dan juga sebagai barang sovenir yang bisa mendatangkan keuntungan bagi perajin keris.
"Jadi mengenai pelestarian keris itu apa bila dikelola dengan baik juga bisa mendatangkan kesejateraan bagi masyarakat," katanya.
Kongres SNKI perta yang berlangsung dari 19-21 April 2011 di Solo, itu selain untuk memilih pengurus baru, juga menysun program kerjas.
Bersama kongres SNKI tersebut juga digelar pameran dan bursa keris dan juga diadakan demontrasi membuat keris oleh para empu-empu muda
Budaya Indonesia Tidak Semata Lambangkan Tradisi, Namun Juga Harapan
Budaya Indonesia tidak hanya melambangkan tradisi, nilai-nilai luhur, dan pandangan hidup masyarakat Indonesia. Lebih dari itu, harapan, perhatian dan bagaimana Indonesia memandang dunia. Demikian disampaikan Wamenlu Wardana saat membuka Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2012 (BSBI 2012) di Gedung Pancasila, Kemlu, Jakarta (3/4/2012).
Wardana menjelaskan tiga hal utama dalam memahami Indonesia, yaitu keanekaragaman, masyarakat yang bersatu dengan sikap toleransi dan saling menghargai serta semangat demokrasi.
Dalam menjelaskan ketiga hal tersebut, Wardana menggarisbawahi bahwa musyawarah untuk mufakat, budaya dialog, dan demokrasi merupakan salah satu tradisi bangsa Indonesia yang dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara nasional maupun dalam kebijakan luar negerinya.
“Salah satunya adalah melalui Bali Democracy Forum yang telah dimulai sejak tahun 2008,” tuturnya.
Terhadap 55 peserta BSBI 2012, Wardana mengharapkan terjadinya learning and sharing experience dua arah. Di satu sisi, para peserta dapat mengenal dan memahami lebih dalam budaya Indonesia, dengan mengambil bagian dalam masyarakat. Di sisi lain, masyarakat Indonesia akan dapat mengenal lebih jauh budaya yang sangat beragam dengan adanya kehadiran para peserta.
“Saya harap para peserta BSBI 2012 dapat memiliki pemahaman yang luas dan pengalaman yang berkesan selama berada di Indonesia,” tutup Wardana.
Selama 3 bulan, peserta BSBI akan mengikuti berbagai kegiatan dan pelatihan seni dan budaya untuk mempelajari bahasa Indonesia, keberagaman seni budaya, dan agama.
Selain program pengenalan budaya kepada 55 perserta tersebut, BSBI 2012 juga menyediakan Program Kekhususan yang diberikan untuk para pemuka agama masa depan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Rencana Aksi Semarang yang dicetuskan sebagai hasil dari Regional Interfaith Dialogue (RID) ke-6 di Semarang dengan nama Future Faith Leaders (FFL).
Kegiatan ini akan mengundang 15 calon pemimpin agama masa depan dari 15 negara peserta RID, yakni 10 negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, Timor Leste, dan Fiji. FFL rencananya akan diselenggarakan mulai 21 Mei 2012 sampai 14 Juli 2012, dengan pelaksana Universitas Islam Negeri “Sunan Kalijaga” Yogyakarta. (Sumber: Dit. Infomed/PY)
Rumah Budaya Indonesia di Luar Negeri Akan Dibangun
Pemerintah merencanakan untuk membangun Rumah Budaya Indonesia di luar negeri terutama di negara-negara strategis. Melalui Rumah Budaya Indonesia tersebut, diharapkan dapat mengenalkan dan mengomunikasikan budaya Indonesia di mancanegara.
Hal ini dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti. "Kami akan hadir di negara-negara yang dipandang strategis dengan Rumah Budaya Indonesia, misalnya di Jepang dan Amerika Serikat," kata Wiendu Nuryanti di Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (16/12).
Menurut dia, dalam Rumah Budaya Indonesia di luar negeri bisa dijumpai ragam budaya Indonesia antara lain tari-tarian adat, termasuk buku budaya Nusantara. Pembangunan Rumah Budaya Indonesia itu, menurutnya merupakan bagian dari strategi diplomasi budaya.
"Negara asing selama ini telah menerapkan pembangunan diplomsi budaya yaitu contohnya sekarang banyak lembaga budaya asing yang masuk ke Indonesia. Misalnya di Yogyakarta ada Lembaga Indonesia-Prancis (LIP)," katanya.
Dia mengatakan, lembaga-lembaga kebudayaan asing itu sebagai wujud kehadiran budaya asing di Indonesia. Karena itu, jika Indonesia yang merasa memiliki aneka ragam dan kaya akan berbagai jenis kebudayaan itu ingin dikenal di luar negari, harus dikomunikasikan.
"Upaya mengomunikasikan budaya Indonesia ke dunia luar harus melalui strategi diplomasi budaya di antaranya dengan membangun rumah budaya Indonesia di sejumlah negara strategis," kata Wiendu.
Menyinggung pembangunan budaya, dia mengatakan, saatnya dilakukan inovasi budaya. Misalnya, jika Candi Prambanan yang dibangun pada abad 9 sebagai jejak warisan budaya nenek moyang, generasi sekarang mestinya harus meninggalkan hasil budaya apapun kepada generasi masa datang.
Langganan:
Postingan (Atom)